CAGAR BUDAYA JALAN PEMUDA

JALAN PEMUDA SEBAGAI CAGAR BUDAYA DEPOK

Salah satu tempat di kota depok yang banyak terdapat bangunan tua dan bersejarah tentang depok tempo doeloe adalah jalan pemuda Depok. Jalan pemuda pada zaman kolonial bernama jalan kerkweg, dan di di ubah setelah tahun 1950 saat kemerdekaan sudah di akui penuh oleh Belanda di kota depok.

Rumah dan bangunan bersejarah peninggalan penjajahan Belanda di Jalan Pemuda di antaranya Istana Presiden Depok yang sekarang menjadi Rumah Sakit Harapan, Tugu Peringatan Cornelis Chastelein, Gedung Pertemuan Eben Haezer, gedung sekolah yang kini jadi gedung SDN Pancoran Mas 2, Gereja GPIB Immanuel, Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), dan Tugu Peringatan Cornelis Chastelein.


Koordinator Bidang Aset Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) Ferdy Jonathans menyambut baik dengan ditetapkannya Jalan Pemuda menjadi cagar budaya kawasan kota tua. LCC sudah lama berinisiatif melestarikannya. "Peran pemerintah sangat besar dan perlu menjaga peninggalan sejarah Kota Depok yang selama ini terkesan dilupakan. Kami apresiasi dan berharap juga dilakukan di kawasan lain yang banyak terdapat peninggalan sejarah Hindia Belanda di Kota Depok.

Dengan adanya cagar budaya di kota depok menjadi saksi sejarah yang dapat menjadi referensi bagi generasi muda untuk lebih mengetahui sejarah kota depok tempo doeloe, dan tidak hanya berguna bagi keturunan marga Chastelein tapi juga bagi warga depok pada umumnya.

BINGUNG DI PARUNG BINGUNG

PARUNG BINGUNG SAWANGAN DEPOK
Di jalan sawangan ada sebuah pertigaan yang namanya rada unik, pertigaan tersebut menghubungkan pusat kota depok, meruyung limo, dan jalan mochtar menuju parung. Nama tersebut menjadi syah di pakai tempat tersebut karena seringnya para par pengendara atau orang yang akan menuju parung bogor tersesat di pertigaan tersebut. kisah tersebut sering kita dengar jika kita menanyakan asal nama dari parung bingung.  

Alkisah zaman dahulu kala ada seorang pengelana berhenti di pertigaan tersebut , ikhwalnya dia ingin menuju Parung dari arah Depok, tetapi karena baru pertama kali dia melewati jalur tersebut maka bingung lah dia, hendak ke kanan kearah meruyung atau kekiri menuju sawangan kearah parung. begitupun sebaliknya dari arah meryung menuju parung, seringnya kejadian tersebut membuat nama parung bingung menjadi resmi menjadi nama pertigaan tersebut.


Pada pagi dan sore hari pertigaan tersebut sangat padat, baik angkot, motor, dan kendaraan pribadi antri untuk sekedar belok menuju tujuan masing-masing. makin padatnya daerah sawangan akan pemukiman baru yang dibangun membuat para pekerja ibukota memilih tinggal di sawangan depok. arus lalu lintas akan normal kembali jika melewati jam pergi dan pulang kantor.

Sejarah Ciputat Tempo Dulu

Sejarah Ciputat Tempo Dulu

Jika kita hendak menuju daerah Bogor atau menuju Pamulang dari Jakarta Selatan pasti melewati ciputat, kecamatan yang terkenal dengan kampus UIN itu sangat macet di siang hari, berbagai proyek apartemen berjejer di tepi jalan Haji Juanda sampai ke jalan RE Martadinata. Ciputat adalah daerah lama pinggiran Jakarta yang kental dengan budaya Betawi yang menjadi sebagian besar penduduk Ciputat .berikut sejarah Ciputat dari berbagai sumber .

Ciputat sendiri berasal dari bahasa sunda yang terdiri dari dua kosakata yaitu Ci dan Putat, ci atau cai artinya air, putat itu nama pohon. Pohon putat yang banyak tumbuh di kawasan Ciputat tempo dulu, yang sering dikonsumsi sebagai lalapan oleh masyarakat pada waktu itu.

Dalam sejarahnya, penduduk kawasan Ciputat terdiri dari berbagai etnis yaitu Sunda, Betawi, Arab dan Tiong Hoa (China). Pada masa kolonial Belanda, etnis China adalah penguasa secara ekonomi kawasan Ciputat. Namun, saat Indonesia merdeka, peran etnis China terus berkurang digantikan oleh etnis Arab & Betawi yang menguasai lahan-lahan di kawasan penyangga ibu kota tersebut.

Tuan Salim (seorang keturunan Arab) menjadi tuan tanah pada waktu itu, yang kemudian menyumbangkan sebagian tanahnya untuk dibangun musholla, yang kemudian berkembang menjadi Masjid Agung Al-jihad, yang letaknya berseberangan dengan pasar Ciputat. Masjid tersebut, kini menjadi tempat aktifitas utama kegiatan keagamaan di wilayah Ciputat dan sekitarnya. 



Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Ciputat sangat luas, mencakup Rempoa, Pamulang, Cirendeu, Pondok Cabe, dan hampir ke Lebak Bulus. Pada masa itu, kawasan Ciputat menjadi sumber utama penghasilan Belanda untuk memperoleh rempah-rempah dan hasil bumi lainnya.

Waktu itu, kawasan Ciputat masih disebut hutan belantara, dan kotanya adalah Lebak Bulus. Di Lebak Bulus inilah sering menjadi area atau medan untuk pertempuran antara pejuang kemerdekaan dengan penjajah Belanda saat itu.

Ciputat, dari letak geografisnya, saat ini berada diantara 3 provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat (Jabar) dan DKI Jakarta. Dari letak itu, Ciputat itu bisa dikatakan sebagai tanah tidak bertuan, tidak diakui DKI Jakarta, tidak diakui Jabar dan Banten. Makanya wajar, pembangunan di kawasan tersebut kelihatannya sangat lamban dan seperti tidak terurus.

Ciputat itu pernah masuk wilayah Jakarta dan pernah masuk pula ke Jabar. Sekarang menjadi salah satu kecamatan di Banten, Kotamadya Tangerang Selatan. Orang-orang Ciputat sendiri paling senang disebut orang Jakarta, setelah Banten pecah dari Jabar, dipastikan Ciputat menjadi milik provinsi Banten. Dahulu, Ciputat masuk wilayah Kabupaten Tangerang.

Ciputat menjadi bagian dari Tangsel, pada 29 Oktober 2008, melalui sidang paripurna pembentukan Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten di DPR, dengan pengesahan Undang-Undang No. 51 Tahun 2008. Sejak itulah, orang Ciputat sekarang, menjadi orang Banten.

Penduduk Ciputat sekarang sangat padat, berbagai proyek perumahan banyak di bangun di Ciputat. Walau masih banyak orang betawi tinggal di cioutat. Mayoritas penduduk Ciputat beragama Islam dan bahasanya betawi. Tapi sekarang sudah campuran, karena banyak orang daerah yang tinggal di Ciputat. Ciputat pernah terkenal sampai mancanegara, saat Situ Gintung jebol. Ciputat juga terkenal karena adanya kampus UIN Syarif Hidayatullah.
Sumber: tangselmedia.com


klik : Perumahan Elit Di Pondok Cabe

KISAH KH M Yusuf Di Depok

Jalan KH M Yusuf Depok Dua

Jika anda Dari arah Depok 2 Sentosa Raya menuju Jalan Juanda anda akan melewati jalan yang baru di buka kira kira di tahun 2005an, namanya jalan KH M Yusuf, Jalan yang membelah perumahan pesona kahyangan. Jalan ini sangat vital karena memecah antrian di jalan Siliwangi menuju Margonda. Nama jalan di ambil dari nama tokoh agama dan pejuang zaman kolonial bernama KH M Yusuf, yang makamnya ada di sekitar pesona kahyangan Depok.


Berikut sedikit kisah mengenai KH M Yusuf atau lebih di kenal dengan kong Yusuf yang di ambil dari berbagai sumber .

Indonesia memiliki cukup situs bersejarah yang terletak di kota Depok Jawa Barat salah satunya adalah makam KH Muhammad Yusuf yang terletak di areal Masjid Jami KH Muhammad Yusuf di perumahan Pesona Khayangan Depok. 
Dia adalah KH Muhammad Yusuf yang dikenal dengan sebutan Kong Usup adalah pejuang dan sesepuh masyarakat betawi. Konon kabarnya Kong Usup juga termasuk penasihat spiritual dari Presiden pertama Ir Soekarno . 

Tak jarang dia dijemput oleh supir pribadi Soekarno, Muhammad Arif, Bahkan ada cerita ketika Bu Fatmawati melahirkan Guruh Soekarno, Kong Usup sedang berada di rumah Soekarno sebab saat itu sedang ada rapat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nama KH Muhammad Yusuf ini juga tak lepas dari perjuangannya melawan kolonial Belanda di Batavia .

Pada tahun 1941, Kong Usup, yang merupakan Ketua Umum Hisbullah, menyerang batalyon 10 lapangan Banteng yang merupakan markas Belanda di Batavia. Dalam penyerangan ini, dia dibantu Hisbullah, pimpinan KH Darif dari Klender. Saat itu dia orang yang dicari pihak Belanda.

Belanda akhirnya berhasil menyandera kedua orang tua Kong Usup, yaitu Kong Sanen dan Putri Kecil. Kong Usup pun menyerahkan diri kepada Belanda dengan syarat kedua orang tuanya dibebaskan. Dia pun sempat menjalani hukuman di Rutan Cipinang Jakarta sebagai tahanan politik kemerdekaan RI.

Itulah sekilas mengenai asal usul nama jalan KH M Yusuf yang berkelok dan harus hati hati karena biasanya ada banyak kendaraan yang putar balik atau menyebrang melintasi jalan yang ramai di siang hari tersebut.

PENINGGALAN TVRI DI MASA JAYA DI DEPOK

STUDIO ALAM TVRI DEPOK

Setu Baru yang dekat dengan Studion Alam TVRI ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Studio Alam TVRI. Landskap studio alam ini pertama dibangun pada tahun 1980 untuk menunjang kebutuhan shooting film dengan tatar alam yang di produksi oleh TVRI. Tidak aneh jika kita berkunjung kesana, kita akan dimelihat bangunan-bangunan trdisional, serta pohon-pohon rindang. Kawasan yang memiliki luas sekitar 20 ha ini juga terdapat hutan mini yang membuatnya sejuk.

Studi Alam TVRI Depok dibangun pada masa Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro menjabat sebagai direktur stasiun televisi nasional. Tokoh jurnalistik yang dikenal dengan nama Ishadi SK itu kemudian dikenal sebagai pendiri studio alam. Sebagai tempat wisata alam tentu saja Studio Alam TVRI Depok memiliki banyak pepohonan rindang. Di sini pengunjung juga dapat menjumpai beberapa jenis pohon buah-buahan.

Di area Studio Alam TVRI Depok terdapat sebuah danau. Situ yang oleh masyarakat sekitas disebut Situ Baru Studio Alam itu merupakan tempat resapan air bagi daerah di sekitarnya. Danau tersebut biasa digunakan sebagai sumber air saat musim kemarau. Situ tersebut juga merupakan tempat pemancingan yang biasa dimanfaatkan para wisatawan.

Tempat wisata ini memiliki 19 rumah adat yang mulanya digunakan untuk kepentingan pengembilan gambar. Pengunjung dapat menyaksikan rumah joglo, rumah tradisional daerah Sumatra, rumah panggung Kalimantan, dan sebagainya. Di sini pengunjung juga dapat menumpai lapangan tenis yang belakangan dimanfaatkan sebagai lapangan tembak.

Pengunjung biasanya mengunjungi studio alam dengan menaiki sepeda. Di tempat rekreasi alam tersebut memang memiliki jalur khusus sepeda berupa jalan setapak dengan pohon-pohon rindang di bagian tepinya. Di tempat ini pengunjung juga dapat melihat beberapa jenis satwa seperti kerbau, burung, serangga, dan sebagainya. Kegiatan lain yang dapat dilakukan saat berkunjung ke hutan wisata ini adalah piknik, berkuda, serta jalan-jalan.

Studio Alam TVRI Depok dapat dikunjungi setiap hari. Harga tiket masuknya cukup murah dan ditentukan berdasarkan jenis kendaraan yang dibawa pengunjung. Tarif sebesar Rp 5.000 dibebankan kepada pengunjung yang membawa sepeda motor. Pengunjung yang mengendarai mobil diharuskan membayar Rp 10.000. Sedangkan bila datang tanpa membawa kendaraan, Anda cukup membayar Rp 2000.


Untuk menuju Studio Alam TVRI Depok pengunjung bisa menggunakan angkutan D09 dari Terminal Depok.
sumber : FB Depok tempo doeloe

Cerita Jawara Dari Tanah Baru

Kisah Jawara Dari Tanah Baru

Konon Mat Depok/Item ber perawakan kurus, ia disegani karena senjata tajam dan kebal peluru, tajamnya peluru seolah tak mampu menembus kulitnya. pernah ada kisah di mana Mat Depok diuji dengan di bacok oleh sang guru dan ternyata tidak terluka sama sekali. Meski begitu, aksinya dalam banyak peristiwa, berkali-kali membuat dirinya harus berurusan dengan penjajah dan keluar masuk penjara di masa itu. Ia juga punya riwayat percintaan yang menarik, kisahnya banyak di ceritakan oleh orang tua yang di ceritakan turun temurun di tanah baru Depok.


Hal pertama yang membuat penjajah Belanda panik pada Mat Depok adalah perampokan yang didalanginya. Laki-laki yang di dadanya terdapat tato bertuliskan Amat Depok Potolan itu kedapatan merampok di gudang logistik Belanda. Akhirnya ia ditangkap dan diasingkan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta. Pernah mencicipi kehidupan di bui tidak membuat sosok yang satu ini gentar, ia justru makin dikenal dan bikin lawannya was-was

Mat Depok yang berani, juga Kenekatannya menggondol simpanan dari pejabat kompeni, Laki-laki yang pada saat itu telah memiliki dua istri, ternyata terpikat lagi oleh kecantikan Nyai Emah. Sayangnya, perempuan asli Karawang itu telah menjadi simpanan menir Belanda. Jadilah, dengan nekat Mat Depok memikat dan membawa Nyai Emah kabur ke rumah gurunya yang bernama Misar di Pengasinan. Setelah masalah itu selesai, si Nyai akhirnya menjadi istri ketiga sang jawara.

Di masa setelah kemerdekaan, mat depot terlibat dalam peristiwa gedoran Depok, Belanda di Depok tidak mengakui proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itulah Daeran melakukan aksinya menyerbu dan merebut Depok bersama pemuda anggota Banteng Merah.

Setelah negara dalam kondisi merdeka, Mat Depok memilih hidup seperti rakyak pada umumnya bersama ketiga istrinya. Keseharian dijalankannya dengan membersihkan makam Tanah Baru, tak jauh dari rumahnya. Meski tak banyak orang yang mengenal mantan pejuang kemerdekaan itu, meski pula tak tercatat dalam sejarah, namun masih banyak orang asli Tanah Baru yang mendapat kisah mar depok dari para orang tuanya secara turun temurun.

Ada Hutan Di Kota Depok

Sejarah Hutan Cagar Alam Depok


Cagar Alam Depok ada semenjak zaman kolonial Belanda. Tempat konservasi dikenal dengan nama Cagar Alam Pancoran Mas ini usianya lebih tua dari Kebun Raya Bogor. Tempat wisata alam tersebut berlokasi di Kelurahan Depok, Pancoran Mas, kota Depok.

Pada abad ke-17 Depok sebagian besar masih hutan yang luas. Seiring waktu hutan-hutan tersebut berkurang karena dijadikan lahan pertanian dan pemukiman. Untuk mengantisipasi penyusutan luas hutan, Nederlands Indische Verenig Ing Tot Natuur Berscherming (Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda) yang berada di bawah pemerintah kolonial menetapkan hutan di pinggir Kampung Pitara sebagai hutan lindung. Cagar alam tersebut merupakan hutan konservasi pertama di Hindia Belanda.


Kini cagar alam pertama tersebut sering disebut Taman Hutan Raya (Tahura). Cagar alam/tahura Depok ini berada dekat dengan stasiun kereta api Depok Lama. Hutan yang dulu luasnya 30 Ha, kini hanya tersisa seluas 6 Ha. Hutan ini adalah hutan peninggalan di Depok sejak abad-17. Khawatir dengan menyusutnya luas hutan, maka hutan yang masih tersisa oleh Nederlands Indische Vereniging Tot Natuur Berscherming (Perhimpunan Perlindungan Hutan Alam Hindia Belanda) bekerja sama dengan kota praja (Gemeente) Depok ditetapkan sebagai cagar alam (natuur reservaat). Konon, penetapan cagar alam ini dilaporkan kepada Prof Porsch di Wina, Austria dan dinyatakan secara resmi sebagai cagar alam pertama di Hindia Belanda. Peruntukkan hutan cagar alam merupakan hibah dari seorang partikelir bernama Cornelis Castelein seluas 30 ha. Ini berbeda dengan pembangunan Kebun Raya Bogor di Buitenzorg (Bogor) yang dimaksudkan untuk menghutankan kembali dengan mengumpulkan pohon langka (forest). Cagar Alam Depok sendiri justru ditetapkan untuk tetap mempertahankan keasliannya sebagai asli hutan belantara (jungle).

Penetapan hutan ini menjadi cagar alam tidak saja karena semakin menipisnya areal hutan asli di Depok kala itu, tetapi juga karena hutan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta dapat berfungsi sebagai resapan air. Awalnya di hutan ini terdapat berbagai jenis flora dan fauna langka yang perlu dilestarikan. Pepohonan yang rindang dan menjulang tinggi, merupakan habitat yang nyaman bagi berbagai jenis burung. Sementara di dalam semak belukar menjadi habitat bermacam sarangga, berbagai hewan seperti kijang, harimau Jawa, monyet, kancil, rusa, bangau putih, dan kelinci hutan. Namun semua kekayaan hayati tersebut hanya tinggal kenangan masa lampau.

Hingga tahun 2000 di hutan ini masih ditemukan monyet, biawak dan ular. Kini, yang tersisa hanya hewan melata serta sejumlah jenis burung. Keadaannya sudah tak ada bedanya dengan sebuah lahan kosong yang segera akan berubah menjadi hutan beton. Menjadi keharusan bagi warga Depok tetap menjaga kelestarian hutan raya ini, agar anak anak masih dapat merasakan satu satunya hutan di tengah pemukiman padat.

Sawangan Tempo Doeloe

Sejarah sawangan tempo doeloe
Sawangan saat sekarang adalah daerah yang mulai padat di tinggali oleh penduduk, perkembangan proyek perumahan di sawangan semakin menjamur , dari awal harga rumah sawangan sangat murah sampai saat ini mulai merangkak naik dan sudah tergolong mahal untuk kalangan menengah kebawah, tentu sangat berbeda saat zaman dahulu, sawangan daerah yang kurang menarik dan kurang aman untuk para pendatang.kita simak sejarah sawangan pada masa kolonial di bawah ini.

Land sawangan adalah Tetangga dari Land Depok, Land Mampang, Land Tjinere, Land Tjitajam dan Land Pondok Tjina yang secara ekonomi sudah berkembang sejak era VOC, Land Sawangan justru baru dikembangkan di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan seakan terjepit antara wilayah perluasan ekonomi dari barat (Land Paroeng) dan wilayah perluasan ekonomi dari timur (Land Depok).

Peta 1901 Perkembangan Land Sawangan mulai diperhatikan pemerintah saat mana Pemerintah mengumumkan nilai pajak (NJOP) Land Sawangan sebesar f7.973 (Bataviasche courant, 02-03-1825). Pembentukan Situ Pasir Poetih menjadi faktor penting dalam perkembangan lebih lanjut Land Sawangan. Situ Pasir Poetih tidak hanya memicu pencetakan sawah baru, juga kemudian menjadi sumber air utama dalam intensifikasi perkebunan (onderneming). Inti perkebunan di Land Sawangan berpusat di desa Bedahan yang sekarang. 


Belum diketahui sejak kapan dan siapa yang memulai peruntungan di Land Sawangan. Namun cukup kerap terjadi jual dan beli (melalui kantor pelelangan di Buitenzorg), lahan maupun properti lainnya di Land Sawangan antara 1825 hingga 1850. Apakah ini suatu indikasi di Land Sawangan tidak cukup aman? Di Land Sawangan kerap muncul perihal kriminal. Pembunuhan di keluarga pribumi di Kampoeg Tjoerok (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 21-03-1853), perampokan terhadap satu keluarga Tionghoa (Lho Kim Bie) di Kampong Bodjongsarie yang kehilangan 20 ekor kerbau yang diduga hasil curin dibawa ke Batavia (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-05-1853). Land Sawangan juga kerap dijadikan sebagai pelintasan perampok dari Batavia yang melakukan operasi di Buitenzorg dan sekitarnya. (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-02-1879).

Situasi dan kondisi serupa itu seakan menggambarkan Land Sawangan sulit akses, sedikit terpencil (baik dari sisi barat /Paroeng maupun dari sisi timur / Depok memjadi kurang aman. Land Sawangan kurang diminati orang Eropa/Belanda yang boleh jadi populasi orang Tionghoa dan Eropa/Belanda karena kerap menjadi sasaran penduduk lokal.

Namun Land Sawangan tentu saja tetap menyimpan potensi ekonomi . Land Sawangan merupakan satu-satunya land di Kota Depok di masa lampau (pada sisi barat sungai Tjiliwong) yang tidak menerima kucuran air irigasi dari bendungan Empang dari sungai Tjisadane yang berada di Buitenzorg (di sisi timur sungai Tjiliwong, Land Tjilodong, Land Tapos dan Land Tjimanggis mendapat aliran irigasi yang bersumber dari bendungan Katoelampa dari sungai Tjiliwong).

Land Sawangan adalah land yang sudah sejak lama ada, namun baru dikenal secara luas di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan ini memiliki batas-batas di dua sisi sungai (sungai Pesanggrahan dan sungai Angke) dan batas Land Tjitajam di selatan dan Land Mampang dan Land Tjinere di utara. Letak landhuis (rumah Landheer) yang dengan sendirinya menjadi ibukota Land Sawangan berada di selatan jalan akses Paroeng-Depok. Landhuis ini kira-kira di Desa Bedahan yang sekarang.
Sumber : poestahadepok.blogspot.com

Sejarah Jalan Kartini Depok

Jalan jalan Tertua di Kota Depok

Depok saat ingin Di Belah Oleh Tiga Jalan utama, yakni jalan raya Bogor, Jalan Margonda-siliwangi dan jalan Cinere . Jalan-jalan tersebut saat ini sudah padat di lalui kendaraan sehari-harinya, sangat berbeda saat zaman Depok masa kolonial.



Sesungguhnya jalan tertua di Depok adalah jalan trans Batavia-Buitenzorg yang diduga sudah eksis sejak era Pakuan-Pajajaran. Jalan poros ini di era Pemerintahan Hindia Belanda sering disebut Westerweg untuk membedakan dengan Oosterweg yang menjadi jalan pos trans-Java / Jalan Raya Bogor.

Oleh karena jalan poros Batavia-Buitenzorg via Paroeng sudah berkembang, jalan Westerweg via Depok disebut menjadi Middenweg. Jalan akses ke Tjimanggis baru dibangun tahun 1921 setelah dimulainya pembangunan jembatan di atas sungai Tjiliwong /jembatan Panus. Sementara jalan akses ke Paroeng baru ditingkatkan (di aspal) pada tahun 1934.

Jalan Westerweg atau Middenweg ini pada pasca pengakuan kedaulatan RI, ruas antara pertigaan Jalan Jalan Dewi Sartika/ Pasarstraat dengan pertigaan Stasion Depok diberi nama Jalan Kartini. Jalan Depok-Cimanggis, ruas jalan antara Middenweg/ Westerweg hingga jembatan besar di atas sungai Tjiliwong diberi nama Jalan Siliwangi.

Nama jalan Kerkweg baru terdeteksi pada tahun 1922 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-11-1922). Sedangkan nama jalam Pasarstraat baru terdeteksi pada tahun 1934 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-06-1934). Dua nama jalan yang diduga sudah eksis sejak era Belanda adalah Stasionweg dan Kartinistraat. Pada pasca pengakuaan kedaulatan RI dua nama jalan ini tetap dipertahankan: Jalan Stasion dan Jalan Kartini.
sumber : poestahadepok.blogspot.com