Showing posts with label depok jadul. Show all posts
Showing posts with label depok jadul. Show all posts

CERITA KAMPUNG LIO DEPOK

CERITA KAMPUNG LIO DEPOK


Kampung Lio merupakan nama sebuah kampung lama yang terletak di Kelurahan Depok bagian dari Kecamatan Pancoran Mas. kampung Lio diapit Kantor Pemerintah Kota Depok dan Situ Rawa Besar. Menurut cerita penduduk asli bahwa kampung Lio dahulunya merupakan tempat beradanya industri gerabah yang pekerjanya berasal dari etnis Sunda, Jawa dan Betawi.


Jika menurut Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, kampung Lio merupakan kampung pengrajin gerabah atau mengolah tanah menjadi perkakas rumah tangga adalah atas ajaran Cornelis Chastelein yang merupakan penguasa Depok dan mantan pejabat VOC.

Dahulu di sekitar Setu rawa besar terdapat pabrik bata merah yang di bangun sekitar tahun 1900an. Sedangkan untuk industri rumah tangga sewrti kerajinan tanah sudah di mulai sejak 1800an. Area sekitar Setu Rawa Besar dipilih karena kualitas tanah liatnya yang bagus. Industri kerajinan tanah liat di kampung Lio meredup sekitar tahun 1960an.

Versi lain dari cerita kampung Lio adalah datangnya para pendatang dari luar depok yang mengajarkan cara membuat kerajinan dari tanah seperti bata , genteng, serta perlengkapan rumah tangga, kerajinan kampung Lio Depok cukup di kenal karena kualitas nya yang baik, sehingga di sukai banyak orang luar Depok bahkan sampai di jual ke Jakarta atau Batavia.

Karena perkembangan penduduk yang semakin padat, keberadaan rumah Lio pun tergusur dan hilang oleh bangunan lainnya. Dan kini hanya menyisakan sebuah nama kampung tanpa ada lagi aktifitas yang dahulu merupakan cikal bakal dari nama kampung Lio tersebut.

Sejarah Asal Usul Ratu Jaya Depok

Sejarah Asal Usul Ratu Jaya Depok


Ada suatu masa di mana terjadi perang antara Padjajaran dengan Banten dan Cirebon, bala tentara Padjajaran membangun sebuah Padepokan dengan maksud untuk melatih calon prajuritnya agar dapat mempertahankan Padjajaran. Menurut sejarawan Padepokan ini berlokasi di pinggir sungai ciliwung. Letaknya di antara pusat Padjajaran dengan Sunda Kelapa dan bisa di simpulkan padepokan ini berada di Depok, tepatnya di Daerah bernama Ratu jaya .


Di Ratujaya ada beberapa makam Keramat kuno seperti, di antaranya Raden Sajam, Putri Ningrumsari dari kerajaan Mataram. Ratu Kiranawati seorang istri Adipati Tanjung jaya( tanjung barat)juga di makamkan di daerah Ratu Jaya, di perkirakan Ratu Kiranawati wafat tahun 1579.

Karena banyak terdapat makam ratu menjadikan daerah ini dikenal sebagai ratu jaya, makam itu kini Letaknya tidak jauh dari Kantor Kelurahan Ratujaya. Kini kampung Ratu Jaya menjadi sebuah nama Kelurahan di kecamatan Cipayung, kota Depok.

Mengapa hal ini bisa terjadi di karenakan Wilayah Depok sejak ratusan Tahun yang lampau merupakan Daerah perlintasan para Raja baik Kerajaan Mataram maupun Prabu Siliwangi yang akan berkunjung ke Banten maupun ke Sunda kelapa atau Jakarta.

PRESIDEN DEPOK

Depok Dan Presiden Tempo Doeloe

Depok merupakan daerah otonom yang di akui pada zaman kolonial, ini di tandai dengan adanya sisitem pemerintahan sendiri yang berlaku di kota depok, sistem pemerintahan tersebut lengkap dengan dengan jabatan seorang pemimpin yang juga di sebut presiden Depok dengan para menterinya.

Pemerintaha Kota depok dahulu bernama Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. yang menjadi presidennya dipilih secara demokratis. Pusat pemerintahannya terletak di titik Kilometer 0 yang ditandai dengan Tugu Depok. Sejengkal dari situ berdiri sebuah gedung yang dahulu difungsikan sebagai kantor pemerintahan, kini digunakan sebagai Rumah Sakit Harapan.


Yang menjabat sebagai presiden pertamanya adalah Gerrit Jonathans, yang menjabat mulai tahun 1913. lalu Presiden berikutnya tercatat ada tiga tetapi tidak ada catatan terperinci mengenai masing-masing presiden keberapa, antara lain Martinus Laurens, menjabat tahun 1921, Leonardus Leander menjabat tahun 1930, dan terakhir Johannes Matijs Jonathans, menjabat tahun1952.

Berdasarkan data Yayasan Cornelis Castelein (YLCC), konsep tatanan organisasi pemerintahan desa yang bercorak republik (Gemeente Bestuur) itu, disusun pada tahun 1871 oleh seorang pengacara Batavia, RH Kleijn. Konsep itu baru aktif dijalankan pada 14 Januari 1913.

Menurut akta penyerahan tanah partikulir tahun 1952, Johannes Matijs Jonathans tercatat sebagai presiden terakhir. presiden terakhir itu tidak di bantu oleh seorang wakil presiden, jadi depok merupakan tempat dengan sisitem pemerintahan yang cukup moderen dan demokratis dan lebih tua dari Republik Indonesia.

sumber : godepok.com

CAGAR BUDAYA JALAN PEMUDA

JALAN PEMUDA SEBAGAI CAGAR BUDAYA DEPOK

Salah satu tempat di kota depok yang banyak terdapat bangunan tua dan bersejarah tentang depok tempo doeloe adalah jalan pemuda Depok. Jalan pemuda pada zaman kolonial bernama jalan kerkweg, dan di di ubah setelah tahun 1950 saat kemerdekaan sudah di akui penuh oleh Belanda di kota depok.

Rumah dan bangunan bersejarah peninggalan penjajahan Belanda di Jalan Pemuda di antaranya Istana Presiden Depok yang sekarang menjadi Rumah Sakit Harapan, Tugu Peringatan Cornelis Chastelein, Gedung Pertemuan Eben Haezer, gedung sekolah yang kini jadi gedung SDN Pancoran Mas 2, Gereja GPIB Immanuel, Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), dan Tugu Peringatan Cornelis Chastelein.


Koordinator Bidang Aset Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) Ferdy Jonathans menyambut baik dengan ditetapkannya Jalan Pemuda menjadi cagar budaya kawasan kota tua. LCC sudah lama berinisiatif melestarikannya. "Peran pemerintah sangat besar dan perlu menjaga peninggalan sejarah Kota Depok yang selama ini terkesan dilupakan. Kami apresiasi dan berharap juga dilakukan di kawasan lain yang banyak terdapat peninggalan sejarah Hindia Belanda di Kota Depok.

Dengan adanya cagar budaya di kota depok menjadi saksi sejarah yang dapat menjadi referensi bagi generasi muda untuk lebih mengetahui sejarah kota depok tempo doeloe, dan tidak hanya berguna bagi keturunan marga Chastelein tapi juga bagi warga depok pada umumnya.

Sawangan Tempo Doeloe

Sejarah sawangan tempo doeloe
Sawangan saat sekarang adalah daerah yang mulai padat di tinggali oleh penduduk, perkembangan proyek perumahan di sawangan semakin menjamur , dari awal harga rumah sawangan sangat murah sampai saat ini mulai merangkak naik dan sudah tergolong mahal untuk kalangan menengah kebawah, tentu sangat berbeda saat zaman dahulu, sawangan daerah yang kurang menarik dan kurang aman untuk para pendatang.kita simak sejarah sawangan pada masa kolonial di bawah ini.

Land sawangan adalah Tetangga dari Land Depok, Land Mampang, Land Tjinere, Land Tjitajam dan Land Pondok Tjina yang secara ekonomi sudah berkembang sejak era VOC, Land Sawangan justru baru dikembangkan di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan seakan terjepit antara wilayah perluasan ekonomi dari barat (Land Paroeng) dan wilayah perluasan ekonomi dari timur (Land Depok).

Peta 1901 Perkembangan Land Sawangan mulai diperhatikan pemerintah saat mana Pemerintah mengumumkan nilai pajak (NJOP) Land Sawangan sebesar f7.973 (Bataviasche courant, 02-03-1825). Pembentukan Situ Pasir Poetih menjadi faktor penting dalam perkembangan lebih lanjut Land Sawangan. Situ Pasir Poetih tidak hanya memicu pencetakan sawah baru, juga kemudian menjadi sumber air utama dalam intensifikasi perkebunan (onderneming). Inti perkebunan di Land Sawangan berpusat di desa Bedahan yang sekarang. 


Belum diketahui sejak kapan dan siapa yang memulai peruntungan di Land Sawangan. Namun cukup kerap terjadi jual dan beli (melalui kantor pelelangan di Buitenzorg), lahan maupun properti lainnya di Land Sawangan antara 1825 hingga 1850. Apakah ini suatu indikasi di Land Sawangan tidak cukup aman? Di Land Sawangan kerap muncul perihal kriminal. Pembunuhan di keluarga pribumi di Kampoeg Tjoerok (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 21-03-1853), perampokan terhadap satu keluarga Tionghoa (Lho Kim Bie) di Kampong Bodjongsarie yang kehilangan 20 ekor kerbau yang diduga hasil curin dibawa ke Batavia (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-05-1853). Land Sawangan juga kerap dijadikan sebagai pelintasan perampok dari Batavia yang melakukan operasi di Buitenzorg dan sekitarnya. (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-02-1879).

Situasi dan kondisi serupa itu seakan menggambarkan Land Sawangan sulit akses, sedikit terpencil (baik dari sisi barat /Paroeng maupun dari sisi timur / Depok memjadi kurang aman. Land Sawangan kurang diminati orang Eropa/Belanda yang boleh jadi populasi orang Tionghoa dan Eropa/Belanda karena kerap menjadi sasaran penduduk lokal.

Namun Land Sawangan tentu saja tetap menyimpan potensi ekonomi . Land Sawangan merupakan satu-satunya land di Kota Depok di masa lampau (pada sisi barat sungai Tjiliwong) yang tidak menerima kucuran air irigasi dari bendungan Empang dari sungai Tjisadane yang berada di Buitenzorg (di sisi timur sungai Tjiliwong, Land Tjilodong, Land Tapos dan Land Tjimanggis mendapat aliran irigasi yang bersumber dari bendungan Katoelampa dari sungai Tjiliwong).

Land Sawangan adalah land yang sudah sejak lama ada, namun baru dikenal secara luas di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan ini memiliki batas-batas di dua sisi sungai (sungai Pesanggrahan dan sungai Angke) dan batas Land Tjitajam di selatan dan Land Mampang dan Land Tjinere di utara. Letak landhuis (rumah Landheer) yang dengan sendirinya menjadi ibukota Land Sawangan berada di selatan jalan akses Paroeng-Depok. Landhuis ini kira-kira di Desa Bedahan yang sekarang.
Sumber : poestahadepok.blogspot.com

Asal Usul Kecamatan Tapos Depok

Asal Usul Daerah Tapos Depok

Kecamatan Tapos tadinya bagian dari kecamatan Cimanggis sebelum di mekarkan. Banyak cerita yang menyangkut awal adanya daerah kecamatan Tapos, beragam cerita ini coba dirangkum kan dengan singkat, karena memang banyak versi yang beredar, dan ada perbedaan dari berbagai versi tersebut .

Pasukan Mataram Di Tapos
Menurut sesepuh daerah Tapos istilah Depok ini berasal dari kata kata Padepokan maka jelas nama Depok telah ada sebelum Cornelis Chastelein datang ke Depok, namun sebetulnya kata kata De-Folk yang artinya "rakyat" juga bisa dikaitkan sebab nama awal dari Kali Sunter (yang muaranya berada di kelurahan Cilangkap Tapos Depok) sudah disebut oleh pimpinan telik sandi tentara Mataram yang tinggal di Batavia sejak tahun 1620 - 1629 yang bernama Ki Bagus Wanabaya, (putra Ki Ageng Mangir dan Roro Pembayun dari Mataram) 



Sebagai Kaal - Stinker atau "daerah orang miskin yang berbau kentut" rupanya naluri insting intel Mataram yang cakap berbahasa Belanda ini memahami bahwa dengan sebutan yang rendah itu tidak akan menuntun intel VOC Belanda untuk mencari lokasi khusus yang menjadi markas tentara Sandi Mataram di Depok itu.

Tapos Di masa Kolonial
Dalam buku Statistik Buitenzorg 1861 Land Тjikempoan of Petingie bertetangga dengan Land Tjilodong dan Land Tjilangkap. Land Тjikempoan of Petingie (Tjimpaeun) memiliki empat kampong. Di dalam land ini terdapat satu orang Eropa dan penduduk pribumi sebanyak 2080 jiwa serta 10 orang Tionghoa. Jumlah rumah sebanyak 386 unit dan terdapat sebanyak 369 tenaga kerja. Lahan yang diusahakan terdapat tanaman kopi sebanyak 11.567 batang yang belum menghasilkan.

Empat kampung yang berdekatan di Land Тjikempoan of Petingie dua diantaranya besar kemungkinan adalah Kampong Тjikempoan dan Kampong Tapos. Dari statistik ini pengusahaan lahan dimulai di Tjimpaeun dengan satu orang Eropa, dan baru menyusul pengusahaan lahan di Land Tapos. Pemilik Land Tapos diduga adalah keluarga Wassink.

Namun kemudian tidak diketahui kabar beritanya hingga Bataviaasch nieuwsblad, 16-06-1888 melaporkan Kantor Lelang di Buitenzorg mengumumkan (persil tertentu) Land Tapos (dan Land Krangan) disewakan untuk umum. Ini mengindikasikan bahwa ahli waris Land Tapos akan menyewakan kepada pihak lain dari lahan di Tapos dan lahan di Kranggan.

Pabrik Kopi Tapos
Land Tapos berada diantara Kali Soenter dengan sungai Tjikeas. Letak landhuis Land Tapos berada di dekat sungai Tjikeas (sungai yang kini menjadi batas Kota Depok dengan Kabupaten Bogor). Sebagaimana landhuis-landhuis lainnya, landhuis Tapos juga cukup dengan perkampuangan asli. Perkampungan ini bernama Kampong Tapos yang persis berada di bibir sungai Tjikeas. Berdasarkan Peta Tapos 1901, di dekat landhuis terdapat pabrik penggilingan kopi (koffiepelmolen). Ini suatu indikasi bahwa kopi yang mulai ditanam pada akhir tahun 1850an sudah menghasilkan. Pabrik kopi ini paling tidak masih beroperasi pada awal tahun 1900an.

Sebagaimana menurut statistik Bitenzorg 1861 populasi tanaman kopi di Land Tjilangkap sebanyak 1.450 batang, di Land Tjikempoean of Patingie (Тjikempoean en Tapos) sebanyak 11.567 dan Land Tjimanggis 24.987 batang. Dari semua land yang ada di Kota Depok yang sekarang di masa lampau hanya di Land Tapos terdapat pabrik penggilingan kopi.

Adanya pabrik kopi di Land Tapos ini diduga yang menyebakan nama Tapos kemudian lebih terkenal dibandingkan dengan Land Tjikempoean dan Land Tjilangkap. Topographisch Bureau yang berkantor di Batavia membuat nama lembar (blad) kawasan ini dengan judul Tapos: herzien in het jaar 1900. Dari nama lembar peta inilah kemungkinan besar nama kecamatan diambil sehingga bernama Kecamatan Tapos.

Peta Tapos sendiri mencakup kelurahan-kelurahan yang sekarang: Tapos, Leuwinanggung, Sukatani, Sukamaju Baru, Jatijajar, Cilangkap, dan Cimpaeun.




Sejarah Land Tjitajam / Citayam Depok

Sejarah Citayam Depok

Citayam merupakan kampung di pinggiran Depok yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Area ini di masa sekarang mencakup seluruh lahan yang berada di Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Sedangkan di masa lalu Citayam adalah sebuah kampung yang bertetangga dengan Kampung Cipayung.


Dari mana nama asal Citayam belum diketahui secara pasti. Ada yang menyebut Citayam dari dua suku kata, Cit berasal dari peuncit dan Ayam berati ayam. Dalam bahasa Sunda jika digabungkan menjadi Pameuncitan Ayam yang dalam bahasa Melayu berartinya pemotongan ayam. Bahkan ada yang sekenanya menyebut, kata Citayam diambil dari nama Ci dan Ayam yang artinya adalah Sungai Ayam.

Berdasarkan peta ‘Tjipajoeng: herzien in de jaren 1899-1900’ yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau pada 1901, sudah disebutkan nama Citayam yang ditulis dengan Tjitajam. Menurut peta tersebut, area Citayam meliputi kampung Bojong, Pondok Terong, Rawa Geni, Ratu Jaya, Pabuaran, dan Citayam (Tjitajam) sendiri. Kemudian, Kampung Citayam dengan beberapa kampung lain yang berdekatan dibentuk menjadi sebuah desa, yang diberi nama Desa Citayam.

Kampung Citayam terletak di sisi barat Kali Pesanggrahan dan di sisi timur (masih menjadi daerah ulayat Kampung Citayam) terdapat landhuis yang menjadi lokasi rumah tuan tanah dan bangunan-bangunan untuk kegiatan usahanya. Tuan tanah ini memiliki tanah pemilikan pribadi (tanah partikelir) yang bertetangga dengan tanah-tanah partikelir yang lainnya, yaitu Landhuis Depok, Cilangkap, Sawangan, Ciseeng, dan Bojong Gede. Dengan memperhatikan posisi tanah partikelir yang berada di hulu Kali Pesanggarahan ini, maka sebenarnya Kampung Citayam, Desa Citayam bersama dengan semua desa (kini kelurahan) yang menjadi bagian dari Kecamatan Cipayung adalah termasuk land yang kemudian disebut Landhuis Citayam. Disebut Landhuis Citayam karena landhuisnya berada di wilayah (tanah) Kampung Citayam.

Saat itu land Citayam merupakan wilayah yang termasuk Residentie (Provinsi) Batavia (Jakarta), Afdeeling (Kabupaten) Buitenzorg (Bogor), District (Kewedanaan) Paroeng. Sekarang area ini berada di Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Kecamatan ini terdiri dari Kelurahan Pondok Terong, Ratu Jaya, Pondok Jaya, Cipayung, dan Cipayung Jaya.

Pada 1999 lima desa ini (yang kini telah berstatus kelurahan) dipisahkan dari Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor dan menjadi bagian Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Kemudian pada 2011 lima desa ini menjadi Kecamatan Cipayung.

Sedangkan, Desa Citayam dimekarkan dengan desa induk bernama Desa Citayam, sedangkan desa pemekaran bernama Desa Raga Jaya. Untuk Kampung Citayam, merupakan bagian dari Desa Raga Jaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Cukup rumit memang, karena ini tak lepas dari pemekaran Depok menjadi kota mandiri terpisah dari Kabupaten Bogor.

Sejak era kolonial, Citayam merupakan daerah penghasil karet yang tersohor. Di landhuis Citayam terdapat rumah tuan tanah dan properti lainnya, termasuk pabrik penggilingan karet. Pusat kegiatan tanah partikelir ini berada di dua lokasi. Untuk rumah pemilik atau tuan tanah lokasinya berada di sisi barat pinggir setu (danau kecil) yang disebut Setu Citayam. Sedangkan pabrik penggilingan, gudang dan tempat para pekerja lokasinya berada di sebelah barat setu (lokasi perumahan Atsiri yang sekarang).

Dalam perkembangannya, nama Citayam menjadi lebih sangat menonjol seiring dengan dibangunnya sebuah halte atau stasiun kereta api yang diberi nama Stasion Tjitajam pada 1922. Letak stasiun ini tepat berada di sisi timur setu

.Hasil-hasil perkebunan Citayam dibawa melalui jalan pos polisi dan pasar Citayam yang sekarang menuju stasiun Citayam. Kemudian dibuat alternatif melalui setu yang sekarang disebut Jalan Pos (kereta api) Citayam. Perempatan yang terbentuk karena pembuatan jalan alternatif tersebut di sekitar Setu Citayam ini kemudian sering disebut sebagai simpang (perempatan) Hek.

Citayam juga merujuk pada sebuah setu, area tanah partikelir (landhuis), dan stasiun kereta api. Setu Citayam juga sudah dipetakan dalam peta ‘Tjipajoeng: herzien in de jaren 1899-1900’ yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau pada 1901.
Bahkan nama Citayam sudah dikenal karena disebut seorang ahli Botani ternama Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis yang dua kali mengunjungi Setu Citayam. Direktur Herbarium Kerajaan (Rijksherbarium) Leiden, Belanda (1962-1972) yang biasa disapa Profesor Kees van Steenis pertama kali datang ke Setu Citayam pada 1929, diperkirakan antara akhir Maret atau April. Sebab pada 14 Maret di sempat singgah di Depok dan melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede, Cibodas pada 5 Mei.

Kunjungan kedua Kees van Steenis ke Setu Citayam pada 28 Agustus 1932. Dia bertugas di Kebun Raya Bogor dari 1929 hingga 1949, telah menulis dua buku bidang botani dan biografi, yaitu Flora Voor De Scholen in Indonesie (1949) dan The Mountain Flora of Java (berisi pemerian 456 spesies asli pegunungan Jawa).

Pembangunan Stasiun Citayam pada 1922 juga membuat nama daerah ini tidak asing. Kehadiran Stasiun/Halte Citayam merupakan bagian dari beroperasinya Kereta Api Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor) sejak awal 1873. Diketahui pembangunan jalur kereta antara Jakarta dan Bogor oleh NIS (Nederland Indische Spoorweg Maatschappij) dicanangkan pada 1870. Pembukaan jalur kereta pertama di Jakarta, sempat diberitakan Javabode, sebuah koran lokal saat itu, pada 15 September 1871.

Jalur kereta api Batavia-Buitenzorg ini terdiri dari stasiun utama (hoofdstatsion), stasiun (stasiun kecil), halte (halte besar) dan overweg (halte kecil). Stasiun utama berada di Batavia lama (Stadhuis/NIS) dan Buitenzorg. Untuk halte dan overweg terdapat di Cileboet, Bodjong Gede, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Lenteng Agoeng, Pasar Minggoe.

Sumber : Okezone.com